Senin, 22 September 2014
Minggu, 21 September 2014
Haji Rijal dan Partai Pisang
Posted By:
Admin
on 04.41
Haji Rijal mengaku berpandangan moderat. Ia sangat
membenci jama'ah yang gemar mengkafir-kafirkan orang lain. Baginya,
ummat Islam yang fanatik adalah penyebab kemunduran Islam. Ummat Islam
yang gemar mengkafirkan orang lain jauh lebih berbahaya ketimbang
non-muslim. Kelompok ummat Islam model ini, menurut beliau, bagaikan
musuh dalam selimut. Tidak segan-segan Haji Rijal menjuluki kelompok
tersebut dengan sebutan partai pisang. Konon, kelompok tersebut sering
mengadakan pengajian di dekat kebun pisang.
Sikapnya yang keras terhadap kelompok yg suka main kafir-kafiran
itu pada awalnya disukai banyak jama'ah. Banyak jama'ah yang memuji
sikap keras Haji Rijal tersebut karena sikap gemar mengkafirkan begitu
jelas memperburuk suasana di kampung itu. Akan tetapi, lambat laun Haji
Rijal mulai hilang kontrol.
Dari semula berdiskusi dan berdebat biasa dengan para tokoh 'partai
pisang' itu, Haji Rijal tanpa sadar mulai sering mengeluarkan caci maki
bukan saja kepada kelompok tsb tetapi juga kepada siapa saja yang
berbuat baik dan akrab (dalam rangka menjalankan hablum minan nas)
kepada kelompok pisang itu. Dunia menjadi hitam putih: minna wa minkum;
lawan atau kawan.
Bagi Haji Rijal siapapun yang berada di tengah-tengah perdebatan
itu (atau mencoba menengahi perdebatan itu) akan dianggap sebagai bagian
dari kelompok pisang dan pantas untuk di-caci maki. Kelompok pisang
sudah jelas salahnya dan kelompok Haji Rijal sudah jelas benarnya.
Demikian pandangan Haji yang satu ini.
Baginya, setiap orang yang mencoba mengikuti pengajian di
kelompoknya dan sekaligus mengikuti pengajian di kebun pisang adalah
orang yg tidak punya pendirian. Orang tersebut dicurigai loyalitasnya.
Tanpa disadari oleh Haji Rijal, hampir setiap forum pengajian yang
dihadirinya berakhir dengan keributan. Alih-alih menjadi penyelesai
masalah, Haji Rijal malah turut membuat masalah. Kelompok partai pisang,
menurut beliau, sering menghalalkan segala cara, untuk itu Haji Rijal
pun menghalalkan segala cara, termasuk menuduh tanpa bukti, mencaci maki
sesama muslim, menghina ulama yang tidak sepaham dengannya, melecehkan
sejumlah organisasi keislaman yang tidak sepaham dengannya, dan
lain-lain. Pendek kata, dimana ada Haji Rijal, disitu muncul keributan.
Ada orang yang bilang Haji Rijal ini karakternya memang senang
ribut. Boleh jadi falsafah dia adalah: ber-ribut-ribut dahulu
bersenang-senang kemudian. Setiap datang saran untuk memperbaiki cara
dia berdiskusi, Haji Rijal hanya memicingkan sebelah mata. Baginya, cara
dia mengajukan pendapat, cara dia berdebat dan cara dia memojokkan
siapapun yang tidak sepaham dengannya adalah bagian dari kebenaran itu
sendiri, yang tidak bisa diganggu gugat.
Ini adalah jihad, karena yg haq dan batil telah jelas; hitam atau
putih telah jelas sinarnya. Tentu saja yang putih adalah kelompok Haji
Rijal dan yg dianggap beliau hitam adalah kelompok kebun pisang. Yang
abu-abu pun dia anggap sama dengan hitam.
Satu hal yang luput dari perhatian haji Rijal adalah, alih-alih
membuat orang simpati, semakin banyak orang yang tidak bersimpati pada
cara perjuangannya. Ia yang mengaku moderat, liberal dan non-fanatik,
ternyata jatuh pada sikap fanatik. Tuduhannya pada kelompok pisang itu,
ternyata berbalik menerpa mukanya sendiri.
Entah sampai kapan Haji Rijal mau bertahan dengan cara-cara seperti itu...
Pesan moral:
1. Seringkali kita mengecam orang lain sebagai fanatik, tanpa sadar kita pun jatuh pada lubang yang sama.
2. Memperjuangkan sebuah keyakinan atau kebenaran juga harus dilakukan dengan cara-cara yang benar.
3. Haji Rijal ini bukan saja berada di sekitar kita, tetapi jangan-jangan ada di dalam diri kita masing-masing.
Sumber: http://www.nabawia.com
oleh: Nadirsyah Hosen -- Pustaka Isnet
Masuk Islam Karena Takjub dengan Muslimah Yang Menjaga Kehormatannya
Posted By:
Admin
on 04.39
Aku adalah dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit di Amerika. Suatu hari, datang seorang perempuan Arab muslimah ke rumah sakit tempatku bekerja, wanita itu hendak melahirkan. Setelah beberapa saat menunggunya, waktu jagaku habis, lalu aku berpamitan kepadanya untuk pulang ke rumah dan kusampaikan bahwa ada seorang dokter laki-laki yang akan menggantikanku bertanggung jawab atas persalinannya.
Tiba-tiba perempuan itu bersedih, kemudian menangis dan mulai sedikit histeris. Ia mengatakan, “Tidak!, aku tidak ingin dokter laki-laki.”
Aku pun heran dengan perempuan ini, lalu suaminya memberitahukan kepadaku bahwa dia tidak mau ada seorang laki-laki asing yang melihatnya. Seumur hidupnya tidak ada seorang laki-laki pun yang pernah melihat wajahnya kecuali ayahnya, saudara-saudara laki-lakinya, paman-pamannya (mahramnya).
Ucapan suaminya itu membuatku tertawa keheranan, malah aku mengira tidak ada seorang laki-laki di Amerika (yang mengenalku pen.) yang belum pernah melihat wajahku. Namun aku menuruti permintaan mereka untuk menemani persalinan istrinya.
Di hari berikutnya, aku menemui mereka kembali untuk memeriksa keadaan sang istri pasca melahirkan. Lalu kuberitahukan kepada mereka bahwa setelah melahirkan kebanyakan wanita di Amerika mengalami infeksi internal dan demam. Hal itu dikarenakan mereka melakukan hubungan suami istri setelah melahirkan. Oleh karena itu, aku nasihatkan kepada mereka hendaknya tidak melakukan hubungan suami istri minimal di 40 hari pertama. Dan selama 40 hari ini hendaknya memakan makanan yang bergizi dan tidak sibuk beraktivitas karena kondisi tubuh yang masih lelah pasca melahirkan.
Muslimah ini menanggapi saran-saranku dengan mengatakan, Islam memang menetapkan aturan demikian, yakni tidak boleh berhubungan suami istri selam 40 hari setelah melahirkan (nifas) hingga wanita tersebut suci kembali. Dan mereka pun diberikan keringanan untuk tidak shalat dan puasa.
Luar biasa! Ucapannya ini benar-benar membuatku kagum bercampur heran. Islam telah mengajarkan demikian, dan kami (orang-orang non-Islam) baru mengetahuinya setelah melakukan berkali-kali penelitian panjang. Kekagumanku tidak berhenti sampai di situ, ketika kukatakan agar bayi hendaknya tidur dengan sisi kanannya, karena yang demikian itu lebih baik untuk detak jantungnya. Lalu mereka mengatakan, demikianlah memang yang disunnahkan Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Aku mengambil spesialis kandungan untuk mempelajari lebih detil lagi tentang masalah melahirkan dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Kita (para dokter) menghabiskan umur kita untuk mempelajari ilmu kedokteran ini, ternyata umat Islam telah mengetahuinya dari agama mereka.
Sejak saat itu aku mulai menekuni mempelajari agama Islam. Aku ambil cuti beberapa bulan lalu pergi ke kota lain di Amerika dimana terdapat Islamic Center yang besar. Aku habiskan hari-hariku di tempat itu untuk bertanya-jawab dan mengkaji tentang Islam serta bergaul dengan orang-orang Islam baik dari kalangan Arab atau Amerika sendiri. Alhamdulillah.. setelah beberapa bulan mengkaji aku menyatakan keislamanku dengan dua kalimat syahadat.
Pelajaran:
Seorang suami hendaknya mencarikan dokter perempuan untuk istrinya ketika hendak melahirkan, karena yang demikian adalah bentuk penjagaan terhadap kehormatan sang istri.
Hendaknya seorang muslim bangga terhadap agamanya walaupun dalam keadaan berat seperti melahirkan.
Berpegang teguh mengamalkan ajaran Islam adalah bagian dari dakwah.
Di tengah hiruk pikuknya orang-orang mengatakan bahwa seseorang muslim yang berpegang teguh terhadap ajaran agamanya adalah orang-orang yang kaku dan kolot, ternyata masih banyak orang-orang non muslim yang mengagumi ajaran Islam.
Sumber:http://www.nabawia.com
Bergerak Itu Mencerdaskan, Lho!
Posted By:
Admin
on 04.37
“Ih, ini anak kok gak bisa diam sih?” seorang teman menggerutu seraya
menggendong anak dua tahunnya yang bergerak lincah di halaman rumah.
Melalui bergerak anak juga bisa menolong dirinya sendiri, misal
ketika menemukan hal yang menakutkan anak dengan refleks bergerak. Saat
dikejar anjing ia akan berlari secepat mungkin untuk menghidarinya. Saat
terpelest, ia berusaha mengantisipasinya dengan bergerak refleks, dan
lain sebagianya. Dengan bergerak, anak akan membangun kesadaran tubuh
dan konsep dirinya.
“Kenapa digendong?” saya pun bertanya.
“Habis, ni anak lari-lari terus, saya takut dia jatoh, cape juga harus ngejar-ngejar,” jawabnya.
“Coba pakaikan sepatu, pake baju lengan panjang dan celana panjang supaya aman,” saya pun coba memberinya saran.
“Gak ah, nanti dia malah gak bisa diam, naik sana, lari sini pokoknya pusing deh, kalau digendong kan lebih aman…” ujarnya.
Beberapa waktu lalu, ada seorang anak yang dibawa ayahnya ke
kantornya. Tiba di kantor, sang ayah berkata kepada anaknya “Diam di
sini, duduk, jangan kemana-mana sampai ayah kembali ke sini.”
Anaknya hanya menganggukan kepala. Saya memperhatikan anak ini,
usianya 6 tahun lebih, dia diam tak bergerak sedikitpun sesuai dengan
perintah ayahnya selama satu jam lima puluh menit.
Hal yang tak jauh beda juga terlihat di lembaga prasekolah. Ibu
guru berteriak, “Diam, duduk yang rapi, tangannya dilipat diatas meja,
mulutnya dikunci lalu kuncinya dibuang, hap…!” Jika ada anak yang tidak
melakukan yang dikatakanya, maka guru mencapnya sebagai anak nakal.
Ada sebagian orang tua berkata bahwa anak yang baik itu adalah anak
yang diam, tidak banyak tingkah. Sedangkan kebalikannya, anak yang
banyak bergerak sering disebut anak nakal. Ungkapan ini tentu tidak
benar, karena pada dasarnya bergerak adalah fitrah manusia, dan bagi
anak kecil bergerak adalah salah satu ungkapan dari apa yang dipikirkan,
dirasakan, dan diinginkannya.
Dari perspektif medis, bergerak bagi anak adalah sangat baik bagi
kesehatan tubuhnya, selain melatih otot-otot tubuhnya, juga akan melatih
otot jantung agar kuat kelak sampai dewasanya.
Dari perspektif pendidikan, gerakan pada anak sangat penting untuk
merangsang kecerdasannya.Howard gardner yang terkenal dengan teori
Multiple Intelegence nya menjelaskan bahwa setiap anak harus dibangun
bodily kinestetik intelegence-nya yaitu kemampuan menggunakan tubuh
secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau
mengemukakan gagasan dan emosi, karena ada bagian otak yang mengurusi
itu.
Latihan gerakan sangat penting bagi anak apabila dilatih dengan
gerakan yang bermanfaat yang sesuai dengan tahap usianya sehingga
organ-organ tubuh akan berfungsi dan berkembang secara sempurna.
Nah, Ayah-Bunda, yuk biarkan anak bergerak!
Oleh : Widianingsih, M.Ag (Pemilik Sekolah Sentra Bukit Pelangi, Jatinangor)
Sumber: islampos/muslimahzone Belajar Sedekah dari Lebah
Posted By:
Admin
on 04.35
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah untuk menjadikan gunung, pepohonan, dan tempat tinggal sebagai tempat bersarang.” (QS. an-Nahl [16]:68)
مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl [16]: 69)
Ibarat seorang pekerja yang bekerja banting tulang, kerja keras setiap hari,dengan penghasilan yang begitu berlimpah, namun pekerja tadi hanya mengambil 10% dari pendapatanya, 90% nya ia berikan kepada orang lain, pertanyaannya mampukah banyak orang atau kita sendiri mau melakukan hal itu?
Jawabannya mungkin ada dan sebagian kecil mungkin, sangat kecil, namun hal ini ternyata tidak berlaku pada lebah, dari total konsumsi lebah, ternyata hanya 10% produksi madu dari Sang Lebah tadi yang mereka konsumsi sendiri, artinya 90% hasil produksi mereka, mereka “sedekah” kan untuk siapa? Untuk Manusia.
Kesimpulannya? Lebah memang diciptakan Allah untuk melayani manusia, sehingga sangat tidak bersyukur, kita sudah di fasilitasi Allah melalui lebah ini melalui madu untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Namun, di luar itu semua, sungguh lebah begitu banyak memikirkan orang lain, mereka lebih banyak memikirkan bagaimana memberi dan berbagi untuk orang lain khususnya manusia dengan produk produk mereka, Subhanallah.
Adakah dari kita yang mau dan mampu berbagi 90% dari apa yang kita dapatkan? mungkin belum lah kita seperti keikhalasan lebah tapi ternyata salah satu Sahabat Rasulullah berani memberi untuk Allah dan RasulNya dengan memberi seluruh kekayaanya (100%) , dialah Abubakar Radiyallahu anhu.
Mari kita meniru azas manfaat dari lebah agar kita menjadi manusia yang lebih banyak memikirkan orang lain dan berbagi kepada orang lain dan itu semua menjadikan justru semakin bahagia, sehat dan kaya, percayalah.*
Sumber: http://www.hidayatullah.com
Twitter @zaidulakbar
Rep: Administrator
Editor: Cholis Akbar
Sel juga Bertasbih
Posted By:
Admin
on 04.33
Ternyata, orkestra Sel dalam tubuh manusia sangatlah indah, mereka bergerak, bekerja, membuat formasi dan melakukan segala aktifitas di dalam tubuh manusia tempat mereka berada bahkan tanpa sama sekali ada kontrol dari manusia itu sendiri, artinya, sel-sel tersebut bergerak,memperbaiki sel yang rusak, membuat berbagai kegiatan super rumit tanpa ada perintah sama sekali.
Jika kita bicara mesin, maka bisa dipastikan sebuah mesin yang menyala tentunya ada yang menghidupkan, mengoperasikan mesin tersebut bisa bekerja dan melaksanakan fungsinya.
Menariknya sel sel tubuh manusia ternyata mampu melaksanakan itu semua tanpa sedikitpun ada campur tangan dari manusia itu sendiri, artinya mereka melakukan itu karena ada kekuatan yang Maha Agung nan Maha dahsyat yang memperkerjakan mereka pagi siang malam sesuai dengan BluPrint kehidupan mereka yaitu bertasbih, memuji Robbnya , berotasi dengan putaran berlawanan arah jarum jam sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada mereka, itulah tasbih sel-sel tersebut kepada Rob mereka, Rob kita!
Mengagumkan sekali, saat sel-sel tersebut bekerja terus menerus untuk mengabdi kepada Robb-Nya.
Kapan mereka berhenti? Mereka akan berhenti jika RobbNya telah menyatakan mereka harus berhenti atau dengan kata lain kematian melingkupi mereka dan itulah yang juga harus dilakukan oleh manusia, karena manusia pun diciptakan untuk mengabdi kepadaNya? Ada istirahatnya? Ada. Namun istirahat yang sebenarnya adalah saat kaki manusia tersebut menginjak di SurgaNya Allah.
Sampai jumpa di surga….Bekerjalah beraktifitaslah untukNya hinga nanti kita dapat berjumpa dan melihat WajahNya.*
Sumber:http://www.hidayatullah.com
Twitter: @zaidulakbar
Rep: Administrator
Editor: Cholis Akbar
Langganan:
Komentar (Atom)



