Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 September 2014

Haji Rijal dan Partai Pisang

Haji Rijal, begitulah orang-orang memanggilnya. Sebenarnya beliau bukan lulusan pesantren atau lulusan IAIN, namun semangat keislamannya sangat tinggi. Lemari bukunya penuh dengan buku-buku keislaman. Tidak heran kalau jama'ah Masjid al-Sakinah memintanya menjadi imam di masjid tersebut.
Haji Rijal mengaku berpandangan moderat. Ia sangat membenci jama'ah yang gemar mengkafir-kafirkan orang lain. Baginya, ummat Islam yang fanatik adalah penyebab kemunduran Islam. Ummat Islam yang gemar mengkafirkan orang lain jauh lebih berbahaya ketimbang non-muslim. Kelompok ummat Islam model ini, menurut beliau, bagaikan musuh dalam selimut. Tidak segan-segan Haji Rijal menjuluki kelompok tersebut dengan sebutan partai pisang. Konon, kelompok tersebut sering mengadakan pengajian di dekat kebun pisang.
Sikapnya yang keras terhadap kelompok yg suka main kafir-kafiran itu pada awalnya disukai banyak jama'ah. Banyak jama'ah yang memuji sikap keras Haji Rijal tersebut karena sikap gemar mengkafirkan begitu jelas memperburuk suasana di kampung itu. Akan tetapi, lambat laun Haji Rijal mulai hilang kontrol. 
Dari semula berdiskusi dan berdebat biasa dengan para tokoh 'partai pisang' itu, Haji Rijal tanpa sadar mulai sering mengeluarkan caci maki bukan saja kepada kelompok tsb tetapi juga kepada siapa saja yang berbuat baik dan akrab (dalam rangka menjalankan hablum minan nas) kepada kelompok pisang itu. Dunia menjadi hitam putih: minna wa minkum; lawan atau kawan.
Bagi Haji Rijal siapapun yang berada di tengah-tengah perdebatan itu (atau mencoba menengahi perdebatan itu) akan dianggap sebagai bagian dari kelompok pisang dan pantas untuk di-caci maki. Kelompok pisang sudah jelas salahnya dan kelompok Haji Rijal sudah jelas benarnya. Demikian pandangan Haji yang satu ini.
Baginya, setiap orang yang mencoba mengikuti pengajian di kelompoknya dan sekaligus mengikuti pengajian di kebun pisang adalah orang yg tidak punya pendirian. Orang tersebut dicurigai loyalitasnya.
Tanpa disadari oleh Haji Rijal, hampir setiap forum pengajian yang dihadirinya berakhir dengan keributan. Alih-alih menjadi penyelesai masalah, Haji Rijal malah turut membuat masalah. Kelompok partai pisang, menurut beliau, sering menghalalkan segala cara, untuk itu Haji Rijal pun menghalalkan segala cara, termasuk menuduh tanpa bukti, mencaci maki sesama muslim, menghina ulama yang tidak sepaham dengannya, melecehkan sejumlah organisasi keislaman yang tidak sepaham dengannya, dan lain-lain. Pendek kata, dimana ada Haji Rijal, disitu muncul keributan.
Ada orang yang bilang Haji Rijal ini karakternya memang senang ribut. Boleh jadi falsafah dia adalah: ber-ribut-ribut dahulu bersenang-senang kemudian. Setiap datang saran untuk memperbaiki cara dia berdiskusi, Haji Rijal hanya memicingkan sebelah mata. Baginya, cara dia mengajukan pendapat, cara dia berdebat dan cara dia memojokkan siapapun yang tidak sepaham dengannya adalah bagian dari kebenaran itu sendiri, yang tidak bisa diganggu gugat.
Ini adalah jihad, karena yg haq dan batil telah jelas; hitam atau putih telah jelas sinarnya. Tentu saja yang putih adalah kelompok Haji Rijal dan yg dianggap beliau hitam adalah kelompok kebun pisang. Yang abu-abu pun dia anggap sama dengan hitam.
Satu hal yang luput dari perhatian haji Rijal adalah, alih-alih membuat orang simpati, semakin banyak orang yang tidak bersimpati pada cara perjuangannya. Ia yang mengaku moderat, liberal dan non-fanatik, ternyata jatuh pada sikap fanatik. Tuduhannya pada kelompok pisang itu, ternyata berbalik menerpa mukanya sendiri.
Entah sampai kapan Haji Rijal mau bertahan dengan cara-cara seperti itu...
Pesan moral:
1. Seringkali kita mengecam orang lain sebagai fanatik, tanpa sadar kita pun jatuh pada lubang yang sama.
2. Memperjuangkan sebuah keyakinan atau kebenaran juga harus dilakukan dengan cara-cara yang benar.
3. Haji Rijal ini bukan saja berada di sekitar kita, tetapi jangan-jangan ada di dalam diri kita masing-masing.


Sumber: http://www.nabawia.com
oleh: Nadirsyah Hosen -- Pustaka Isnet

Masuk Islam Karena Takjub dengan Muslimah Yang Menjaga Kehormatannya

Dokter Orivia mengisahkan sebuah kejadian yang begitu berkesan bagi dirinya, sehingga kejadian itu membuatnya masuk ke dalam agama Islam. Ia mengisahkan…
Aku adalah dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit di Amerika. Suatu hari, datang seorang perempuan Arab muslimah ke rumah sakit tempatku bekerja, wanita itu hendak melahirkan. Setelah beberapa saat menunggunya, waktu jagaku habis, lalu aku berpamitan kepadanya untuk pulang ke rumah dan kusampaikan bahwa ada seorang dokter laki-laki yang akan menggantikanku bertanggung jawab atas persalinannya.
Tiba-tiba perempuan itu bersedih, kemudian menangis dan mulai sedikit histeris. Ia mengatakan, “Tidak!, aku tidak ingin dokter laki-laki.”
Aku pun heran dengan perempuan ini, lalu suaminya memberitahukan kepadaku bahwa dia tidak mau ada seorang laki-laki asing yang melihatnya. Seumur hidupnya tidak ada seorang laki-laki pun yang pernah melihat wajahnya kecuali ayahnya, saudara-saudara laki-lakinya, paman-pamannya (mahramnya).
Ucapan suaminya itu membuatku tertawa keheranan, malah aku mengira tidak ada seorang laki-laki di Amerika (yang mengenalku pen.) yang belum pernah melihat wajahku. Namun aku menuruti permintaan mereka untuk menemani persalinan istrinya.
Di hari berikutnya, aku menemui mereka kembali untuk memeriksa keadaan sang istri pasca melahirkan. Lalu kuberitahukan kepada mereka bahwa setelah melahirkan kebanyakan wanita di Amerika mengalami infeksi internal dan demam. Hal itu dikarenakan mereka melakukan hubungan suami istri setelah melahirkan. Oleh karena itu, aku nasihatkan kepada mereka hendaknya tidak melakukan hubungan suami istri minimal di 40 hari pertama. Dan selama 40 hari ini hendaknya memakan makanan yang bergizi dan tidak sibuk beraktivitas karena kondisi tubuh yang masih lelah pasca melahirkan.
Muslimah ini menanggapi saran-saranku dengan mengatakan, Islam memang menetapkan aturan demikian, yakni tidak boleh berhubungan suami istri selam 40 hari setelah melahirkan (nifas) hingga wanita tersebut suci kembali. Dan mereka pun diberikan keringanan untuk tidak shalat dan puasa.
Luar biasa! Ucapannya ini benar-benar membuatku kagum bercampur heran. Islam telah mengajarkan demikian, dan kami (orang-orang non-Islam) baru mengetahuinya setelah melakukan berkali-kali penelitian panjang. Kekagumanku tidak berhenti sampai di situ, ketika kukatakan agar bayi hendaknya tidur dengan sisi kanannya, karena yang demikian itu lebih baik untuk detak jantungnya. Lalu mereka mengatakan, demikianlah memang yang disunnahkan Nabi kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Aku mengambil spesialis kandungan untuk mempelajari lebih detil lagi tentang masalah melahirkan dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Kita (para dokter) menghabiskan umur kita untuk mempelajari ilmu kedokteran ini, ternyata umat Islam telah mengetahuinya dari agama mereka.
Sejak saat itu aku mulai menekuni mempelajari agama Islam. Aku ambil cuti beberapa bulan lalu pergi ke kota lain di Amerika dimana terdapat Islamic Center yang besar. Aku habiskan hari-hariku di tempat itu untuk bertanya-jawab dan mengkaji tentang Islam serta bergaul dengan orang-orang Islam baik dari kalangan Arab atau Amerika sendiri. Alhamdulillah.. setelah beberapa bulan mengkaji aku menyatakan keislamanku dengan dua kalimat syahadat.
Pelajaran:
Seorang suami hendaknya mencarikan dokter perempuan untuk istrinya ketika hendak melahirkan, karena yang demikian adalah bentuk penjagaan terhadap kehormatan sang istri.
Hendaknya seorang muslim bangga terhadap agamanya walaupun dalam keadaan berat seperti melahirkan.
Berpegang teguh mengamalkan ajaran Islam adalah bagian dari dakwah.
Di tengah hiruk pikuknya orang-orang mengatakan bahwa seseorang muslim yang berpegang teguh terhadap ajaran agamanya adalah orang-orang yang kaku dan kolot, ternyata masih banyak orang-orang non muslim yang mengagumi ajaran Islam.


Sumber:http://www.nabawia.com

Bergerak Itu Mencerdaskan, Lho!

“Ih, ini anak kok gak bisa diam sih?” seorang teman menggerutu seraya menggendong anak dua tahunnya yang bergerak lincah di halaman rumah.
“Kenapa digendong?” saya pun bertanya.
 
“Habis, ni anak lari-lari terus, saya takut dia jatoh, cape juga harus ngejar-ngejar,” jawabnya.
 
“Coba pakaikan sepatu, pake baju lengan panjang dan celana panjang supaya aman,” saya pun coba memberinya saran.
 
“Gak ah, nanti dia malah gak bisa diam, naik sana, lari sini pokoknya pusing deh, kalau digendong kan lebih aman…” ujarnya.
 
Beberapa waktu lalu, ada seorang anak yang dibawa ayahnya ke kantornya. Tiba di kantor, sang ayah berkata kepada anaknya “Diam di sini, duduk, jangan kemana-mana sampai ayah kembali ke sini.”
 
Anaknya hanya menganggukan kepala. Saya memperhatikan anak ini, usianya 6 tahun lebih, dia diam tak bergerak sedikitpun sesuai dengan perintah ayahnya selama satu jam lima puluh menit.
 
Hal yang tak jauh beda juga terlihat di lembaga prasekolah. Ibu guru berteriak, “Diam, duduk yang rapi, tangannya dilipat diatas meja, mulutnya dikunci lalu kuncinya dibuang, hap…!” Jika ada anak yang tidak melakukan yang dikatakanya, maka guru mencapnya sebagai anak nakal.
 
Ada sebagian orang tua berkata bahwa anak yang baik itu adalah anak yang diam, tidak banyak tingkah. Sedangkan kebalikannya, anak yang banyak bergerak sering disebut anak nakal. Ungkapan ini tentu tidak benar, karena pada dasarnya bergerak adalah fitrah manusia, dan bagi anak kecil bergerak adalah salah satu ungkapan dari apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkannya.
 
Melalui bergerak anak juga bisa menolong dirinya sendiri, misal ketika menemukan hal yang menakutkan anak dengan refleks bergerak. Saat dikejar anjing ia akan berlari secepat mungkin untuk menghidarinya. Saat terpelest, ia berusaha mengantisipasinya dengan bergerak refleks, dan lain sebagianya. Dengan bergerak, anak akan membangun kesadaran tubuh dan konsep dirinya.
 
Dari perspektif medis, bergerak bagi anak adalah sangat baik bagi kesehatan tubuhnya, selain melatih otot-otot tubuhnya, juga akan melatih otot jantung agar kuat kelak sampai dewasanya.
 
Dari perspektif pendidikan, gerakan pada anak sangat penting untuk merangsang kecerdasannya.Howard gardner yang terkenal dengan teori Multiple Intelegence nya menjelaskan bahwa setiap anak harus dibangun bodily kinestetik intelegence-nya yaitu kemampuan menggunakan tubuh secara terampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi, karena ada bagian otak yang mengurusi itu.
 
Latihan gerakan sangat penting bagi anak apabila dilatih dengan gerakan yang bermanfaat yang sesuai dengan tahap usianya sehingga organ-organ tubuh akan berfungsi dan berkembang secara sempurna.
 
Nah, Ayah-Bunda, yuk biarkan anak bergerak!
 
 
 
Oleh : Widianingsih, M.Ag (Pemilik Sekolah Sentra Bukit Pelangi, Jatinangor)
Sumber: islampos/muslimahzone

Belajar Sedekah dari Lebah

Belajar Sedekah dari LebahLEBAH yang merupakan salah satu Mahluk terindah dan sempurna yang diciptakan Allah ternyata banyak mengandung kikmah yang bisa kita pelajari.
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah untuk menjadikan gunung, pepohonan, dan tempat tinggal sebagai tempat bersarang.” (QS. an-Nahl [16]:68)
مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl [16]: 69)
Ibarat seorang pekerja yang bekerja banting tulang, kerja keras setiap hari,dengan penghasilan yang begitu berlimpah, namun pekerja tadi hanya mengambil 10% dari pendapatanya, 90% nya ia berikan kepada orang lain, pertanyaannya mampukah banyak orang atau kita sendiri mau melakukan hal itu?
Jawabannya mungkin ada dan sebagian kecil mungkin, sangat kecil, namun hal ini ternyata tidak berlaku pada lebah, dari total konsumsi lebah, ternyata hanya 10% produksi madu dari Sang Lebah tadi yang mereka konsumsi sendiri, artinya 90% hasil produksi mereka, mereka “sedekah” kan untuk siapa? Untuk Manusia.
Kesimpulannya? Lebah memang diciptakan Allah untuk melayani manusia, sehingga sangat tidak bersyukur, kita sudah di fasilitasi Allah melalui lebah ini melalui madu untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Namun, di luar itu semua, sungguh lebah begitu banyak memikirkan orang lain, mereka lebih banyak memikirkan bagaimana memberi dan berbagi untuk orang lain khususnya manusia dengan produk produk mereka, Subhanallah.
Adakah dari kita yang mau dan mampu berbagi 90% dari apa yang kita dapatkan? mungkin belum lah kita seperti keikhalasan lebah tapi ternyata salah satu Sahabat Rasulullah berani memberi untuk Allah dan RasulNya dengan memberi seluruh kekayaanya (100%) , dialah Abubakar Radiyallahu anhu.
Mari kita meniru azas manfaat dari lebah agar kita menjadi manusia yang lebih banyak memikirkan orang lain dan berbagi kepada orang lain dan itu semua menjadikan justru semakin bahagia, sehat dan kaya, percayalah.*


Sumber: http://www.hidayatullah.com
Twitter @zaidulakbar
Rep: Administrator
Editor: Cholis Akbar

Sel juga Bertasbih

Sel juga BertasbihSEMUA yang ada di Langit dan di bumi bertasbih memujiNya, sebagaimana dalam Quran Surat An-nuur: 41. Ayat ini sangat sering kita baca dan dapatkan di dalam Al-Quran, namun bagaimana sebenarnya Sel sel yang ada di dalam tubuh manusia bertasbih? Memuji sang Pemiliknya?
Ternyata, orkestra Sel dalam tubuh manusia sangatlah indah, mereka bergerak, bekerja, membuat formasi dan melakukan segala aktifitas  di dalam tubuh manusia tempat mereka berada bahkan tanpa sama sekali ada kontrol dari manusia itu sendiri, artinya, sel-sel tersebut bergerak,memperbaiki sel yang rusak, membuat berbagai kegiatan super rumit tanpa ada perintah sama sekali.
Jika kita bicara mesin, maka bisa dipastikan sebuah mesin yang menyala tentunya ada yang menghidupkan, mengoperasikan mesin tersebut bisa bekerja dan melaksanakan fungsinya.
Menariknya sel sel tubuh manusia ternyata mampu melaksanakan itu semua tanpa sedikitpun ada campur tangan dari manusia itu sendiri, artinya mereka melakukan itu karena ada kekuatan yang Maha Agung nan Maha dahsyat yang memperkerjakan mereka pagi siang malam sesuai dengan BluPrint kehidupan mereka yaitu bertasbih, memuji Robbnya , berotasi dengan putaran berlawanan arah jarum jam sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada mereka, itulah tasbih sel-sel tersebut kepada Rob mereka, Rob kita!
Mengagumkan  sekali, saat sel-sel tersebut bekerja terus menerus  untuk mengabdi kepada Robb-Nya.
Kapan mereka berhenti? Mereka akan berhenti jika RobbNya telah menyatakan mereka harus berhenti atau dengan kata lain kematian melingkupi mereka dan itulah yang juga harus dilakukan oleh manusia, karena manusia pun diciptakan untuk mengabdi kepadaNya? Ada istirahatnya? Ada. Namun istirahat  yang sebenarnya adalah saat kaki manusia tersebut menginjak di  SurgaNya Allah.
Sampai  jumpa di surga….Bekerjalah beraktifitaslah untukNya hinga nanti kita dapat berjumpa dan melihat WajahNya.*


Sumber:http://www.hidayatullah.com
Twitter: @zaidulakbar
Rep: Administrator
Editor: Cholis Akbar

Menelusuri Perjalanan Bisnis Khadijah

Siapa tak kenal sosok Khadijah, perempuan agung istri pertama Rasulullah. Beliaulah ibu para mukminin hingga akhir zaman.
Keteguhannya dalam agama tak perlu dipertanyakan, kesetiaannya pada sang suami tak usah diragukan. Ia menjadi wanita pertama yang memeluk Islam, mendukung suaminya bahkan merelakan hartanya di jalan dakwah.
Tak heran jika beliau merupakan salah satu wanita agung di sepanjang sejarah.
Nama lengkap Khadijah yakni Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai. Beliau lahir di Makkah pada tahun 556 Masehi, putri pasangan Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Za’idah, dari kabilah Bani Asad dari suku Quraisy.
Ayah Khadijah dikenal sebagai seorang pemimpin yang populer di kalangan Quraisy. Ia merupakan seorang pengusaha yang wafat dalam pertempuran Fujjar. Nasab Khadijah dari pihak ayah berhimpun pada nasab kakek Rasulullah yang keempat yakni Qushai bin Kilab.
Hidup di tengah keluarga kaya, Khadijah dibesarkan dalam kemewahan. Azti Arlina dalam “Belajar Bisnis Kepada Khadijah” menyebutkan Khadijah lahir dari keluarga bangsawan Quraisy. Ia besar di kalangan keluarga yang memiliki pencarian hidup sebagai pedagang besar. Ia juga pernah mendapatkan warisan dari harta dua suaminya yang telah wafat.
Namun, semua kekayaan tersebut tidak membuat seorang Khadijah hanya duduk santai menikmati kekayaan. Sebaliknya, Khadijah begitu ulet dalam berbisnis, sehingga namanya diperhitungkan pada zamannya sebagai pengusaha sukses.
Suami pertama Khadijah yakni Abu Halah Malak bin Nabash bin bin Zarrarah At-Tamimi. Bersama sang suami, Khadijah mebuat bisnis yang besar. Qadarullah, sang suami meninggal dunia. Khadijah pun mendapat warisan yang besar. Dari pernikahan dengan Abu Halah, Khadijah dikaruniai dua anak, yaitu Hindun dan Halah. Keduannya merupakan shahabat rasulullah. Hindun bahkan seorang rawi yang banyak meriwayatkan hadits Rasul.
Setelah menjanda beberapa lama, Khadijah kemudian menikah lagi dengan ‘Atique bin’ Aith bin ‘Abdullah Al-Makhzumi. Namun dalam mengarungi rumah tangga dengan suami keduanya, Khadijah memiliki banyak ketidakcocokan hingga akhirnya bercerai. Namun dari pernikahan kedua ini Khadijah sempat melahirkan seorang anak perempuan bernama Hindah.
Dari putrinya ini, keturunan Khadijah menyebar di Madinah yang dikenal Bani Thahirah (Keturunan Wanita Suci). Namun keturunan tersebut terputus.
Dalam buku “Great Women of Islam” disebut, pasca perceraian dengan suami kedua, Khadijah mencurahkan segala perhatian untuk membesarkan anak-anaknya, serta membangun bisnis yang dia warisi dari ayahnya.
Dengan bermodal kecerdasan dan kemampuan bisnis, Khadijah mampu membuat sebuah usahanya bisnis yang paling besar di kalangan Quraisy. Khadijah berkiprah sebagai single parent yang sukses. Namanya sangat terkenal di kalagan Quraisy sebagai pembisnis wanita yang kaya raya.
Bermitra dengan Muhammad SAW
Buku “Khadijah: The True Love Story of Muhammad” mengkisahkan awal mula pertemuan Khadijah dan Rasulullah dalam urusan bisnis. Saat itu Rasulullah belum diutus sebagai seorang nabi dan Rasul.
Suatu hari, sang ratu bisnis mendengar kabar tentang pemuda yang sangat terpercaya di kalangan Arab, dialah Rasulullah Muhammad. Tertarik menjadikan pemuda itu karyawannya, Khadijah pun memanggilnya.
“Saya memanggil Anda berdasarkan apa yang kudengar dari orang-orang tentang perkataan Anda yang jujur, integritas Anda yang terpercaya, dan akhlak Anda yang mulia. Saya memilih Anda untuk menangani urusan-urusan perdagangan dan akan saya bayar Anda dua kali lipat dari apa yang biasa kuberikan kepada selain Anda,” ujar Khadijah kepada Rasulullah. Nabiyullah Muhammad pun menerima tawaran Khadijah tersebut dengan senang hati.
Khadijah pun mengirim Rasulullah sebagai pemimpin kafilah dagang ke negeri Syam. Seorang budak kepercayaan Khadijah bernama Maysarah pun ikut serta dalam kafilah tersebut. Dalam perjalanan tersebut, seorang rahib Yahudi yang dikenal memiliki wawasan agama yang luas, Nestora bertanya pada Maysarah, siapa gerangan pemimpin kafilah dagang yang ia ikut serta didalamnya.
Maysarah pun mengabarkan tentang reputasi Rasulullah yang dikenal jujur dan cerdas. Nestora kemudian mengatakan bahwa orang tersebut merupakan bakal nabi yang diutus Allah.
Segala pengalaman Maysarah dalam mengikuti kafilah dagang Rasulullah pun dikabarkan kepada Khadijah. Maysarah bahkan mengatakan melihat dua malaikat membawa awan diatas kepala nabi untuk melindunginya dari terik matahari. Khadijah pun mulai terpesona dengan pribadi Rasulullah. Apalagi setelah mengetahui hasil perdagangan sang Al-Amin.
Bisnis Khadijah di negeri Syam semakin besar, laba yang dihasilkan meningkat tajam. Keputusan Khadijah memilih Muhammad sebagai tangan kanan bisnisnya menjadi keputusan tepat. Ia pun terus bermitra dengan Rasulullah dalam menjalankan bisnis tersebut. (es/muslimahzone)

Kesederhanaan Makan Rasulullah


Kesederhanaan Makan RasulullahJIKA kita amati, mengapa penyakit di zaman dahulu tidak separah dan tidak seberat manusia modern. Apa sebab?
Ternyata jawabannya terletak pada seberapa sederhana seseorang mengkonsumsi makanan hariannya.
Hal ini sebenarnya telah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah sallallahu ‘alaihiwasallam. Beliau begitu sederhana dalam urusan makanan yang beliau konsumsi yang akhirnya membuat beliau menjadi manusia yang sangat sehat, baik secara fisik maupun secara qolbu.
Hal ini sebenarnya dapat kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, artinya kesederhanaan seseorang dalam mengkonsumsi makanan hariannya lah yang menenetukan sedikit banyak penyakit, yang kalaulah itu menjadi takdir untuknya, meski hal ini belumlah menjadi faktor penentu 100 persen.
Namun, jika kita mencontoh Rasulullah, ya benar sekali, beliau tak pernah kenyang selama hidupnya, bahkan beliau lebih banyak dan lebih sering lapar daripada kenyang atau kekenyangan, karena memang salah satu penyebab lemahnya iman seseorang adalah banyaknya makanan.
Yah, percaya, wisata kuliner dan berbagai ragam makanan masa kini plus dengan berbagai bahan-bahan sintetik didalamnya, sangat mengundang selera manusia untuk mengkonsumsinya, tapi sebenarnya insan yang bijak adalah insan yang memperhatikan sekali apa yang masuk ke dalam perutnya, sehingga semakin sederhana makanan yang ia konsumsi dan semakin alami, maka semakin kecil peluang ia mendapatkan sakit yang berat.
Jadi ya, jangan tanya kenapa banyak mengalami keluhan dan sakit sakit yang sedikit banyak menganggu aktifitas sehari-hari jika yang dikonsumsi adalah makanan “sampah” atau makanan minuman yang memang tidak layak masuk ke dalam tubuh manusia.
Tinggal kita sendiri yang menilai, selama ini lebih banyak kita makan untuk memenuhi hawa nafsu lebih dominan atau justru makan benar benar hanya sekedar memuaskan lidah, bahasa sederhananya, enak di mulut, sampah di perut.*

Sumber:  http://www.hidayatullah.com
Twitter Zaidul Akbar @zaidulakbar
Rep: Administrator
Editor: Cholis Akbar

(Ber)Apa Mahar Terbaik Untuk Pernikahan?

Salah satu yang mesti disiapkan (dan juga dibicarakan) oleh pasangan yang hendak menikah adalah mahar pernikahan.
Secara singkat, mahar atau mas kawin adalah sejumlah harta yang diberikan oleh (calon) pengantin pria kepada (calon) pengantin wanita pada saat pernikahan. Nominal dan jenis mahar disampaikan/diucapkan pada saat ijab kabul dan biasanya diserahkan usai prosesi ijab kabul selesai.
Pertanyaannya, berapa/apa mahar yang terbaik yang mesti disiapkan untuk pernikahan?
Mari kita rujuk beberapa referensi berikut mengenai mahar.
- ”Sebaik-baik perempuan adalah yang paling murah maharnya.” (HR. ibnu Hibban, Hakim, Baihaqi, Ahmad)
- “Tiada sah pernikahan kecuali dengan (hadirnya) wali dan dua orang saksi dan dengan mahar (mas kawin) sedikit maupun banyak.” (HR. Ath-Thabrani)
- Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.” ‘Urwah berkata, “Yaitu mudah rahimnya untuk melahirkan.” (HR. Ahmad)
- “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An Nisa(4):24)
Dari referensi-referensi di atas, tidak ada rujukan resmi mengenai apa atau berapa besar mahar yang mesti disiapkan. Bahkan Rasululloh SAW mengijinkan sahabatnya, yg kekurangan materi, untuk menggunakan hafalan Al Quran sebagai mahar, sebagaimana referensi berikut:
Hadits riwayat Sahal bin Sa`ad Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
“Seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan berkata: Wahai Rasulullah, aku datang untuk menyerahkan diriku kepadamu. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memandang perempuan itu dan menaikkan pandangan serta menurunkannya kemudian beliau mengangguk-anggukkan kepala. Melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tidak memutuskan apa-apa terhadapnya, perempuan itu lalu duduk.
Sesaat kemudian seorang sahabat beliau berdiri dan berkata: Wahai Rasulullah, jika engkau tidak berkenan padanya, maka kawinkanlah aku dengannya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bertanya: Apakah kamu memiliki sesuatu? Sahabat itu menjawab: Demi Allah, tidak wahai Rasulullah! Beliau berkata: Pulanglah ke keluargamu dan lihatlah apakah kamu mendapatkan sesuatu? Maka pulanglah sahabat itu, lalu kembali lagi dan berkata: Demi Allah aku tidak mendapatkan sesuatu! Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Cari lagi walaupun hanya sebuah cincin besi! Lalu sahabat itu pulang dan kembali lagi seraya berkata: Demi Allah tidak ada wahai Rasulullah, walaupun sebuah cincin dari besi kecuali kain sarung milikku ini!
Sahal berkata: Dia tidak mempunyai rida` (kain yang menutupi badan bagian atas). Berarti wanita tadi hanya akan mendapatkan setengah dari kain sarungnya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bertanya: Apa yang dapat kamu perbuat dengan kain sarung milikmu ini? Jika kamu memakainya, maka wanita itu tidak memakai apa-apa. Demikian pula jika wanita itu memakainya, maka kamu tidak akan memakai apa-apa. Lelaki itu lalu duduk agak lama dan berdiri lagi sehingga terlihatlah oleh Rasulullah ia akan berpaling pergi.
Rasulullah memerintahkan untuk dipanggil, lalu ketika ia datang beliau bertanya: Apakah kamu bisa membaca Alquran? Sahabat itu menjawab: Saya bisa membaca surat ini dan surat ini sambil menyebutkannya satu-persatu. Rasulullah bertanya lagi: Apakah kamu menghafalnya? Sahabat itu menjawab: Ya. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Pergilah, wanita itu telah menjadi istrimu dengan mahar mengajarkan surat Alquran yang kamu hafal.”
(Shahih Muslim no:1425)
Bahkan, dalam salah satu riwayat, disebutkan bahwa mahar pernikahan Ummu Sulaim adalah suaminya masuk Islam.
Ummu Sulaim juga tidak menerima lamaran-lamaran yang datang kepadanya sehinggalah Anas berusia cukup dewasa. Beliau kemudiannya dilamar oleh Abu Talhah Al-Anshary yang ketika mengajukan lamaran tersebut masih seorang musyrik. Ummu Sulaim dituntut untuk mempertimbangkan lamaran lelaki tersebut kerana Abu Talhah merupakan seorang yang berpengaruh di dalam masyarakat. Ketika Abu Talhah menemui beliau buat kali kedua untuk tujuan yang sama, Ummu Sulaim menjawab lamaran tersebut dengan berkata
“Wahai Abu Talhah, lelaki seperti engkau tidak layak untuk ditolak. Tetapi engkau seorang kafir, sementara aku wanita Muslimah dan tidak mungkin bagiku untuk menikahi engkau”
“ Apa yang perlu kulakukan untuk tujuan itu?” tanya Abu Talhah.
“Hendaklah engkau menemui Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam” Jawab Ummu Sulaim.
Abu Talhah segera beranjak untuk menemui Rasulullah yang ketika itu sedang duduk di tengah-tengah para sahabat. Ketika melihat kehadiran Abu Talhah, baginda Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Abu Talhah mendatangi kalian, dan tanda-tanda keislaman tampak di antara kedua matanya”. Abu Talhah memberitahu Rasulullah apa yang dikatakan Ummu Sulaim. Akhirnya, Abu Talhah memeluk Islam di hadapan baginda dan para sahabat. Beliau juga bersetuju menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keIslamannya. Ummu Sulaim berkata kepada anaknya, “ Wahai Anas, bangkitlah dan nikahkanlah Abu Talhah”.
Tentang kisah pernikahan yang diberkati ini, Tsabit bin Aslam Al-Banany, salah seorang Tabi’in berkata, “Kami tidak pernah mendengarkan mahar yang lebih indah dari maharnya Ummu Sulaim, yaitu Islam!” (Shifatush Shafwah, 2/66; Siyar A’lamin-Nubala’, 2/29)
Referensi lain:
- “Seandainya seseorang tidak memiliki sesuatu untuk membayar mahar, maka ia boleh membayar mahar dengan mengajarkan ayat Al-Qur’an yang dihafalnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Namun, seiring perjalanan waktu dan budaya serta adat istiadat setempat, mahar bukanlah sesuatu yang se-sederhana dan se-simple seperti jaman dulu. Bahkan, konon mahar Muhammad (beliau belum menjadi Rasul dan Nabi) saat melamar Siti Khadijah pun tidaklah sesimple dan sesederhana yg beliau ajarkan dan sampaikan sebagaimana referensi-referensi di atas. Hewan unta sebanyak 100 ekor (dari referensi lain 20 ekor unta) diserahkan Muhammad untuk mempersunting dan menikahi Siti Khadijah.
Saya sendiri sempat tersenyum ketika ada yg mengatakan bahwa 100 (atau 20) ekor unta itu mahar Rasululloh SAW yang mesti diteladani. Dalam artian, mahar mestilah harta yang banyak. Mengapa saya tersenyum? Pertama, karena seperti saya tulis di atas, saat Rasululloh SAW menikahi Siti Khadijah, beliau BELUM menjadi Rasul dan Nabi. Dengan demikian, mahar beliau BUKAN KEWAJIBAN (ataupun sunnah) yg mesti diikuti. Kedua, Rasululloh SAW sendiri sudah memberikan referensi tentang kriteria mahar sebagaimana saya tulis di atas.
Meski demikian, saya tetap menghormati para (calon) pengantin pria yg hendak memberikan mahar yang nilainya banyak kepada istrinya.
Yang mesti diperhatikan adalah:
1. Mahar adalah hak istri. Apabila maharnya berbentuk harta, suami tidak boleh (dilarang) menggunakan mahar tanpa persetujuan istrinya. Kecuali mahar berbentuk sajadah atau Al Quran, suami boleh-boleh saja menggunakan untuk sholat atau membaca Quran.
2. Apabila suami istri bercerai dikarenakan tuntutan perceraian dari sang istri, maka istri mesti mengembalikan mahar yg pernah dia terima.
Rasulullah SAW bersabda,”Bahwa ketika istri Tsabit bin Qais Al-Anshari r.a menyatakan tidak bisa melanjutkan rumah tangga dengannya karena tidak mencintainya, dan ia bersedia menyerahkan kembali kebun kepadanya yang dulu dijadikan sebagai mahar pernikahannya. Beliau menyuruh Tsabit untuk menceraikannya, maka Tsabit pun melaksanakannya.” (HR. Al-Bukhari).
3. Besaran mahar bisa disepakati (calon) pengantin pria dan (calon) pengantin perempuan. Intinya yg bisa dipenuhi oleh calon pria namun mengangkat harga diri dan harkat martabat calon perempuan.
4. Mahar JANGAN dijadikan beban atau alasan untuk menunda pernikahan (seperti halnya resepsi).
5. Saya pernah menemui berita mengenai mahar seorang perempuan berupa perusahaan dan harta benda yang cukup besar. Mahar ini digunakan untuk berbisnis dan mengembangkan usahanya.
Semoga bermanfaat. (es/muslimahzone)


Sumber: http://www.nabawia.com

Harar, Kota Islam Tertua di Afrika Bertahan dalam Pengaruh Global

Harar, Kota Islam Tertua di Afrika Bertahan dalam Pengaruh GlobalHARAR, kota Islam tertua di Afrika mencoba bertahan diri melawan pengaruh budaya luar. Buat penduduk yang mendaulat kotanya sebagai kota suci ke-empat umat Muslim itu, agama menjadi faktor penting.
Markt Harar Äthiopien
Saban malam sekawanan Hiena berpesta daging di pinggir tembok purba yang mengitari Harar – salah satu kota Islam tertua di dunia. Selama beribu tahun wajah kota tidak berubah. Perempuan berkerudung memapah kayu bakar di kepala, sementara para lelaki bersarung menggiring kambing di tepi jalan.
Hingga kini penduduk kota masih berupaya menjaga tradisi dan warna kental Islam dari godaan dunia luar. Namun betapapun gigihnya Harar memenjarakan diri, modernitas perlahan mulai berjejak di kota tua ini.
Di balik tembok yang menjulang, pengaruh gaya hidup modern mulai terasa: Papan iklan bir dipajang pada dinding gedung yang kusam, sebuah toko modern menjajakan produk elektronik terbaru buatan China atau truk besar dari Eropa yang masih baru dan mengkilap serta melaju gagah di jalan utama beraspal, terlihat kontras dengan sedan Peugeot tua yang biasa lalu lalang di sini.
Perlawanan dari Balik Tembok
Namun begitu sekelompok aktivis bertekad melawan arus pengaruh dari dunia luar. Mereka mendikte semua yang dianggap mencerminkan kebudayaan lokal, mulai dari pakaian hingga teknik kuras buku, dari tari-tarian hingga nyanyian rakyat.
“Karena globalisasi, Anda tidak bisa mencegah datangnya perubahan. Tapi budaya dan agama harus bertahan,” kata Abdela Sherif, pemilik sebuah museum yang memiliki koleksi terbesar benda-benda kuno dari Harari dikutip DW. DE.
“Kami akan mempertahankan budaya kami, tradisi kami, kebudayaan tua kami. Dan kami akan menyelamatkannya dengan cara merevitalisasi,” imbuh Sherif. Salah satunya adalah dengan mendigitalisasi buku-buku dan lirik lagu kuno yang berasal dari Harar.
Islam di Afrika Timur
Harar dibangun pada abad ke-10. Kota ini dikenal sebagai salah satu kota tertua di Afrika Timur, dengan tiga mesjidnya yang berusia lebih dari seribu tahun, tertua di luar Jazirah Arab. Beberapa bahkan mendaulat Harar sebagai kota suci ke-empat muslim, setelah Mekkah, Madinah dan Yerusalem.
Selama ratusan tahun tembok Harar yang menjulang setinggi empat meter mampu mendesak pengaruh asing. Sampai tahun 1887 pengunjung non-Muslim masih dilarang berjejak di Harar. Hingga Sultan Menelik dari Ethiopia menduduki kota itu dan membukanya buat penganut agama lain.
“Budaya di Harar sangat berbeda. Bagaimana cara mereka makan, bahkan bagaimana mereka beraktivitas dan berlaku dalam sosial,” kata pakar sejarah dan Sosiologi Ethiopia, Abudusemed Idris.
“Mereka ingin tampil sebagai diri sendiri, tidak terintimidasi oleh budaya lain. Jadi jika menyangkut pengaruh budaya barat, mereka tetap berpikir itu adalah milik mereka, budaya kami adalah milik kami,” imbuh Idris.
Tradisi Kuno
Sebagai hasilnya, beberapa tradisi tetap dijalankan seperti ribuan tahun silam. Terutama festival yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan, di mana ribuan penduduk bernyanyi dan berpesta selama tiga hari.
“Kami takut kami akan kehilangan tradisi ini suatu saat nanti dan kami akan menangis,” kata Amir Ridwan, sembari duduk di lantai beralaskan tikar dan mengunyah Khat, tanaman lokal. Ridwan menggunakan Facebook untuk berkomunkasi dengan para pemuda Harar: Ia mengajak kaum muda untuk tidak jengah mempelajari sejarah dan budaya sendiri.
“Semua bergantung pada mereka, pada kita semua untuk mempertahankan budaya dan tradisi dengan apapun yang kami miliki,” katanya.*


Sumber: http://www.hidayatullah.com
Rep: Panji Islam
Editor: Cholis Akbar

Belajar Pada Malaikat

Pernahkah kita ditanya seseorang tentang suatu perkara yang kita tidak mengetahui jawabannya? Lantas demi menjaga harga diri, kita menjawab dengan jawaban yang sebenarnya kita juga tidak yakin atau malah tidak mengetahuinya.
Jika memang pernah, berarti kita harus belajar pada malaikat.
Dalam surat Al Baqarah ayat 31, dikatakan bahwa Allah subhanahu wata’ala mengajarkan Adam ‘alaihi salam tentang nama-nama benda, kemudian Dia perlihatkan kepada malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar!”
Namun, apa jawaban malaikat: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Al Baqarah: 32)
Oleh karena itu, Imam asy-Sya’bi rahimahullahu ta’ala (w. 103 H) saat ditanya tentang suatu masalah, lalu beliau berkata, “Aku tidak tahu.”
Maka para sahabatnya berkata, “Kami merasa malu denganmu.”
Beliau kemudian mengatakan, “Akan tetapi para Malaikat tidak merasa malu ketika mereka mengatakan, ‘Kami tidak memiliki ilmu kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami.’” (Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Imam Ibnu ‘Abdil Barr, II/51)
Jika malaikat dan orang berilmu saja tidak malu mengatakan bahwa dia tidak tahu, maka kenapa kita harus malu. Justru pertanyaan itu seharusnya mengingatkan kita bahwa masih banyak ilmu yang harus kita pelajari dan mendorong kita agar lebih giat lagi menuntut ilmu. Jangan sampai kita menyesatkan orang lain dengan jawaban kita yang tanpa landasan.
Di bumi ini, banyak sekali ilmu yang tersimpan dan masih harus terus digali. Tidak perlu berkeliling dunia, lihatlah saja di sekitar kita. Pada setiap benda yang Allah ta’ala ciptakan, pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil. Majelis ilmu pun kini dengan mudah dapat kita temukan, tidak perlu malu untuk bergabung bersama orang-orang shalih.
Teruslah belajar dan mencari hikmah dibalik ke-Maha Besar-an Allah, niscaya kita akan menemukan berbagai keajaiban. Dan sekali lagi, jangan malu untuk bilang, ‘Saya tidak tahu’. Wallahu’alam. (es/muslimahzone)

Sumber: http://www.nabawia.com

Hijaber ini Dokter Termuda di Indonesia

Kisah mahasiswa lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) 2014, Raeni menjadi sumber inspirasi bagi semua orang, termasuk hijabers. Ia membuktikan kepada kita, kondisi keluarga yang berkekurangan tak jadi kendala jika diiringi tekad kuat memperoleh prestasi cemerlang.
Kisah lain yang layak jadi panutan adalah seorang remaja putri berusia 19 tahun 9 bulan yang berhasil lulus sebagai dokter termuda di Indonesia. Dia adalah Riana Helmi, gadis berhijab kelahiran Banda Aceh 22 Maret 1991 yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Gadjah Mada (UGM).
 
Putri pasangan Helmi dan Rofi’ah ini juga tercatat sebagai sarjana termuda di Indonesia dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,67.
 
Riana sebelumnya pernah tercatat dalam rekor MURI saat menjadi dokter muda pada usia 17 tahun 9 bulan pada Mei 2009. Kemudian ia menyelesaikan kuliahnya hingga menjadi dokter penuh di usia 19 tahun 9 bulan.
 
Keberhasilan Riana tentu melalui proses tidak mudah. Riana Helmi hidup di keluarga sederhana. Ayahnya seorang polisi, membuat anak pertama dari tiga bersaudara ini beserta keluarganya terpaksa berpindah-pindah domisili. Mulai Aceh, Karawang dan berakhir di Sukabumi, tergantung tugas yang diemban sang ayah.
 
Di usia 3 tahun, Riana sudah pandai membaca. "Beliau sendiri yang mengajari saya membaca, menulis, berhitung, juga membaca Alquran," kenang Riana.
 
Sang ayah juga berperan aktif. Riana menilai ayahnya sebagai orangtua yang sangat peduli terhadap perkembangan pendidikan anaknya. Ayahnya selalu mengajarkan tentang kegigihan, sifat bersunguh-sungguh dan kerja keras.
 
Riana mulai masuk Sekolah Dasar (SD) pada usia 4 tahun. Bukan lantaran paksaan dari kedua orangtua. Namun, kecerdasan Riana memang sudah tampak setahun sebelumnya.
 
Riana sejak kecil memang jarang bermain layaknya anak seusianya. Ia menghabiskan waktunya dengan banyak belajar dan ia sangat menikmatinya.
 
Riana menyelesaikan SD selama 6 tahun dengan prestasi sangat memuaskan. Setelah itu ia mengikuti program percepatan (akselerasi) di SMP dan SMA melalui beberapa tes IQ akademik.
 
Hasilnya, Riana selalu lolos uji, sehingga ia bisa menamatkan SMP dan SMA, masing-masing 2 tahun lamanya. Dia pun sudah lulus SMA saat usianya baru 14 tahun.
 
Cita-citanya sejak kecil yang ingin menjadi dokter, membuat dia begitu mantap untuk mendaftar ke Fakultas kedokteran di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melalui jalur Penelusuran Bakat Skolastik (PBS).
 
Masuk dunia kampus, Riana menghabiskan waktu dengan banyak membaca buku serta berdiskusi dengan teman-teman kuliahnya. Bagi Riana gerbang menuju ilmu pengetahun tiada lain adalah dengan rajin membaca. Selain aktif belajar di kampus ia juga rutin mengikuti kajian Islam ilmiah di sekitar kampus.
 
"Banyak sekali waktu untuk membaca. Terkadang, saya menargetkan 1 buku untuk tiap akhir pekan, jika tidak ada tugas kuliah yang harus segera diselesaikan," kata Riana.
 
Selain bercita-cita menjadi dokter, ia juga ingin menjadi dosen. Alasannya, agar bisa terus belajar dan mengajarkan, serta terus terdorong untuk menambah pengetahuan.
 
Sumber: Ugm.ac.id/Dream

Demam Hijab Landa London

Dalam berbagai studi dan wawancara, kaum perempuan di negara-negara minoritas muslim memakai hijab atas kehendak mereka sendiri.
 
 
Sumreen Farooq sering diperlakukan tidak sopan di jalanan London. Untuk itu, saat berusia 18 tahun ia memutuskan untuk mengambil sikap yakni dengan mulai mengenakan hijab.
 
Farooq merupakan salah satu dari banyak perempuan muslim muda di Inggris yang memilih mengenakan hijab, untuk menunjukkan identitas agamanya di sekitar lingkungan mereka. Meski akhir-akhir ini kekerasan terhadap umat Islam yang jelas-jelas menunjukkan identitas mereka meningkat.
 
Dalam berbagai studi dan wawancara, kaum perempuan di negara-negara minoritas muslim memakai hijab atas kehendak mereka sendiri. Sementara pada umumnya, media Barat selalu menggambarkan bahwa perempuan muslim dipaksa keluarga atau suami mereka untuk memakai hijab.
 
Sebanyak di bawah lima persen dari 63 juta penduduk Inggris adalah muslim. Namun tidak ada angka resmi tentang berapa banyak perempuan muslim yang memakai hijab dan niqab.
 
Tapi tampaknya dalam beberapa tahun terakhir. Perempuan muda yang memakai hijab untuk menegaskan identitas muslim mereka dan menampilkannya keyakinan mereka secara terbuka, merasa diserang.
 
Shanza Ali, 25 tahun, mengatakan, ibunya yang berasal dari Pakistan tak pernah memakai hijab. Namun Shanza dan adiknya, Sunda, memutuskan untuk memakai hijab saat berusia 20 tahun. "Saya memutuskan untuk membuat komitmen sebagai seorang muslim dan saya tidak pernah berhenti sejak itu," katanya kepada Reuters.
 
"Kadang-kadang Anda lupa bahwa Anda menutupi rambut Anda, tetapi Anda tidak pernah lupa mengapa Anda memakainya. Yang perlu diingat, karakter harus lebih penting daripada penampilan."
 
Shaista Gohir, ketua Jaringan Perempuan Muslim Inggris, mengatakan lebih banyak perempuan memakai hijab sejak serangan di Amerika Serikat pada 11 September 2001 dan di London pada 7 Juli 2005. Meski mereka di bawah pengawasan politik dan publik yang lebih besar.
 
"Bagi beberapa perempuan muda itu adalah cara untuk menunjukkan mereka berbeda dan mereka adalah muslim," katanya kepada Reuters. Perempuan yang secara terbuka menonjolkan identitas agama mereka dengan mengenakan atribut keagamaan akan menjadi target pengawasan publik.
 
Sebuah survei tentang jumlah serangan terhadap muslim di Inggris oleh kelompok Tell MAMA (Measuring Anti-Muslim Attacks) sungguh mencengangkan.
 
Selama tahun pertama pemantauan, Tell MAMA mencatat 584 insiden anti-muslim antara 1 April 2012 dan 30 April 2013, dengan sekitar 74 persen dari insiden itu terjadi secara online. Secara fisik, enam dari 10 (58 persen) merupakan serangan terhadap perempuan muslim. Dan 80 persen merupakan serangan terhadap perempuan muslim yang mengenakan hijab dan niqab. Jumlah itu meningkat menjadi 734 insiden selama 10 bulan dari Mary 2013 sampai Februari 2014.
 
Sebuah studi tahun lalu oleh University of Birmingham menemukan lebih dari 15 tahun perempuan muslim telah menjadi target anti-muslim berulang kali. Kendati demikian, tak satu pun dari perempuan yang diserang melepas hijabnya.
 
Sebuah studi internasional pada tahun 2012, yang dilakukan di Austria, India, Indonesia dan Inggris, menemukan bahwa mayoritas perempuan memakai hijab karena alasan kenyamanan, fashion, dan kesederhanaan.
 
Tapi dalam masyarakat minoritas, tanggapan perempuan lebih beragam. Mulai dari argumen agama untuk kenyamanan hingga melawan stereotip dan diskriminasi.
 
"Bagi perempuan di kelompok minoritas, hijab adalah cara untuk menegaskan identitas budaya mereka. Sebagai cara mengatasi pandangan negatif tentang komunitas muslim secara politik," kata peneliti Caroline Howarth, dari London School of Economics.
 
"Ini jelas-jelas bertentangan dengan pandangan negara-negara non-muslim di Barat bahwa hijab adalah simbol fundamentalisme agama dan penindasan patriarkal." (dream)



Sumber:http://www.nabawia.com

Dilecehkan dan Jadi Korban Islamofobia, Muslimah Inggris Tidak Gentar

Tak dipungkiri, berapa banyak Muslimah Inggris jadi korban Islamofobia karena jilbab yang dikenakan. Namun, hal itu tidak membuat gentar Muslimah Inggris. Mereka pun semakin mantap dengan keyakinannya berhijab.
Lembaga Riset, Tell MAMA, mengungkap pelecehan terhadap jilbab tengah menjadi tren. Ini menandakan sifatnya lebih kepada oportunistik dan situasional. "Mereka (pemuda kulit putih) ketika di jalan, melihat Muslim berjilbab kemudian menjadi target pelecehan. Inilah yang disayangkan," kata Tell MAMA, seperti dilansir Onislam.net, Ahad (24/8).
Matthew Feldman, pendiri dari Pusat Studi Fasis, Anti-Fasis dan Post-fasis  di Teesside University mengungkap kelompok sayap kanan merupakan biang keladi dari pelecehan ini. "Pelecehan yang terjadi karena jilbab bukan alasan seksual," kata dia. 
Shanza Ali, 25 tahun, lulusan Master yang bekerja di sebuah organisasi Muslim di London, mengaku tetap berkomitmen dengan jilbab yang dikenakannya meski marak terjadi pelecehan terhadap Muslimah.
"Anda ingat, Anda tidak boleh lupa mengapa Anda menutup rambut Anda. Itu akan membuat lebih mudah Muslimah dari hal yang tidak diinginkan. Anda bisa menjaga diri, mengingatkan Anda untuk berbuat baik dan memperlakukan orang lain dengan baik," kata dia. (rol)


Sumber:http://www.nabawia.com

Pernikahan Bukanlah Penjara Bagi Perempuan


pernikahan 
Pernikahan saat ini menjadi momok yang mengerikan bagi perempuan. Tidak sedikit perempuan beranggapan bahwa pernikahan akan membelenggu kehidupan mereka. Sehingga membuat banyak perempuan yang menghindari pernikahan bahkan memilih untuk tidak menikah hingga usia tua.             “Kenapa harus menikah, lagipula menikah hanyalah sunnah bukan kewajiban?”
Memang benar menikah hanyalah sunnah rasul tetapi bukan berarti tidak menikah menjadi sesuatu yang dibenarkan dalam islam.
Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukminah apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan aka nada pilihan bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasulnya sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata.” (Al-Ahzab (33):36)

             Sudah jelas bagi merka (perempuan) yang tidak menginginkan pernikahan, mereka dalan kesesatan. Dan ketika ayat tersebut disuguhkan, mereka menubah strategi dengan memperhalus kalimat dari tidak ingin menikah menjadi menunggu waktu yang tepat untuk menikah.
Alasan demi alasan pun mulai mereka gencarkan, belum siap mentak, karier, orang tua dan cinta. Sayangnya, dari kesekian alasan tersebut tak satupu mereka menolak pinangan karena agama laki-laki tersebut.

Masih belum siap
Diukur darimnakah ketidaksiapan mental itu?. Jika alasan itu diucapkan oleh perempuan yang berusia belasan tahun atau masih awal dua puluhan, masih wajar. Lalu, bagaimana jika alasan tersebut diucapkan oleh perempuan yang sudah berusia 25 tahun ke atas, apakah itu masuk akal?.
Ketidaksiapan mental hanya menjadi sebuah alasan yang digunakan oleh perempuan berusia di atas 25 tahun. Ketidaksiapan mental tersebut dikarenakan mereka tidak ingin kebebasannya terganggu. Ingin tetap bebas melakukan apapun tanpa beban tanggung jawab sebagai seorang istri maupun ibu.

Karier dan Membanggakan orang tua
Ingin membalas budi kepada orang tua dengan memiliki pekerjaan yang bagus dan bisa memberikan limpahan materi. Tanpa mengabaikan bahwa hidup membutuhkan uang, sesungguhnya bagi anak perempuan banyak cara untuk membalas budi orang tua bahkan lebih baik dibandingkan dengan limpahan materi.
Barangsiapa mempunyai 3 anak perempuan atau 3 saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab, maka baginya adala surga.”
Hanya dengan melahirkan dan membesarkan anak perempuan mereka dengan baik, Allah sudah menjamin surga bagi para orang tua.
Tidak mencintai laki-laki yang meminangnya
Sesungguhnya hati dan pikiran itu yang menggerakkannya adalah Allah. Cinta pada dasarnya datang karena terbiasa. Jika memang belum ada cinta maka hal itu bisa dibangun saat kita dalam proses pengenalan. Permasalahannya adalah mereka (perempuan yang anti pernikahan) tidak mau memberikan kesempatan untuk saling mengenal dengan langsung memutuskan untuk menolak.

Alasan-alasan tersebut sebenarnya hanyalah alasan yang dibuat oleh kaum feminimisme barat. Dan kebodohan kita adalah mengikutinya bahkan saya pun pernah menjadi salah satu penganut paham anti menikah perempuan barat. Hal itu terjadi sebelum saya mengetahu untuk apa Allah menciptakan perempuan.
Kebebasan berekspresi yang dijanjikan oleh feminimisme barat bagi perempuan Indonesia yang kehidupannya jauh tertinggal bagaikan oaese di gurun pasir.

Luka yang masih berbekas
Pemikiran bahwa pernikahan akan membelenggu perempuan lebih disebabkan oleh kehidupan perempuan Indonesia saat masa penjajahan. Dimana perempuan hanya menjadi pengurus rumah tangga.
Kondisi perempuan yang menyedihkan saat itu bukan karena islam yang tidak menjunjung tinggi perempuan melainkan karena paham feodal yang disebarkan diseluruh penjuru Indonesia.
Kaum feodal memanfaatkan ajaran islam yang menyatakan bahwa kodrat perempuan adalah sebagai seorang istri dan ibu untuk menekan kehidupan perempuan. Membatasi gerak perempuan sebatas mengurus urusan rumah tangga (dapur).

Feminisme barat merasuki perempuan Indonesia
            Islam yang kala itu masih belum mampu menyentuh masyarakat seutuhnya menjadi salah satu yang dipersalahkan atas nasib perempuan. Islam yang selalu menekankan bahwa kodrat perempuan adalah sebagai seorang istri dan ibu menjadi sasaran empuk bagi kaum perempuan yang tidak puas dengan kehidupan mereka.
Melalui RA Kartini pergerakan feminisme barat masku ke Indonesia. Pergerakan feminism barat yang lebih cepat dibandingkan dengan penyebaran agama islam membuat pemikiran bahwa pernikahan hanya mengukung kehidupan perempuan lebih merasuk kepada benak perempuan. Bahkan ketika islam sudah menyentuh seluruh lapisan masyarakat pemikiran tersebut masih sulit dihapus.
Selain itu pemikiran feminimisme barat yang menyatakan bahwa pernikahan hanya membelenggu kehidupan perempuan soelah seiya sekata dengan kondisi perempuan Indonesia saat itu.
Penekanan islam terhadap kodrat perempuan sebagai seorang istri dan ibu bukan tanpa alasan dan bukan pula karena Allah ingin mengkerdilkan peran perempuan dalam kehidupan.
”Do’a perempuan lebih makbul daripada laki-laki karena sifatn penyayang yang lebih kuat daripada laki-laki. dan ketika Rasulullah SAW di Tanya akan hal itu, Beliau menjawab ; ibu lebih penyayang daripada bapak dan do’a orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”
Dari hadist tersebut diatas dapat kita ketahui bahwa perempuan diberi sifat penyayang yang lebih dibandingkan laki-laki. Allah memberikan sifat penyayang yang lebih kepada perempuan agar perempuan mampu melaksanakan tanggung jawab yang diberikan Allah kepada perempuan yaitu mendidik anak-anak mereka sehingga menjadi manusia yang baik yang dapat menjaga kelangsungan kehidupan dunia.
Agar perempuan dapat melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, Allah menjamin hak-hak perempuan.
“Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan.” (HR. Ibnu Abdil Barr)
“Apapun yang engkau berikan berupa suatu nafkah kepada keluargamu maka engkau diberi pahala, hingga sampai sesuap makanan yang engkau angkat (masukan) ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadist tersebut diatas menjelaskan bahwa Allah swt telah menjamin hak perempuan untuk menuntut ilmu dan mendapatkan nafkah dari suami. Penjaminan hak-hak perempuan tersebut agar perempuan dapat menggunakan ilmu mereka untk mendidik anak-anak mereka dan mampu mendampingi suami dalam menjalani bahtera rumah tangga serta agar perempuan tidak memikirkan tentang keuangan keluarga sehingga kita bisa kosentrasi pada tanggung jawab kita sebagai perempuan.
Bagaimanapun kemuliaan bagi seorang perempuan yaitu ketika dia menikah, menjadi seorang istri dan ibu. Dan, kebanggaan orang tua terhadap anak perempuannya yaitu ketika mereka melihat anak perempuannya mampu menjalankan kewajibannya sebagai seorang perempuan yang telah dikodratkan kepadanya dengan baik.
Masihkah kita berpikir untuk menghindari pernikahan?. Dan masihkah kita menganggap pernikahan adalah sebuah penjara?



Sumber:http://www.eramuslim.com
Budi Prastiwi

Memperbanyak Istighfar Supaya Cepat Dapat Jodoh dan Rizki Lancar

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Istghfar memiliki banyak faidah di kehidupan akhirat dan dunia. Ia menjadi sebab datangnya maaf dan ampunan Allah atas dosa dan kesalahan. Sedangkan dosa menjadi sebab berbagai kesulitan di dunia dan akhirat. Maka siapa Allah ampuni dosa-dosanya karena sebab istighfarnya, Allah akan menghindarkan darinya kesulitan dunia dan ahirat. Sebaiknya, Allah akan berikan berbagai kemudahan dan keberkahan.
Allah Ta'ala berfirman tentang petuah Nabi Nuh 'alaihis salam kepada umatnya agar banyak istighfar,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai"." (QS. Nuuh: 10-12)
Allah menerangkan tentang titah Nabi Hud kepada kaumnya untuk istighfar, ia menjadi sebab bertambahnya kekuatan fisik dan turunnya rizki,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
"Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa"." (QS. Huud: 52)
Dalam hadits disebutkan,
 مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Siapa yang kontinyu beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Namun terkadang ada seseorang yang beristighfar, motifasi utamanya, untuk mendapat jodoh, mendapat perkerjaan, atau supaya rizkinya lancar. Tidak banyak istighfar sebelumnya dan tidak menjalankannya lagi sesudah tercapai harapannya. Bagaimana status orang yang beristighfar semacam ini?
Pada dasarnya, istighfar termasuk amal akhirat. Artinya amal yang harapan balasannya nanti di akhirat. Yaitu, agar dosa-dosa diampuni, diselamatkan dari neraka, diberi pahala besar oleh Allah, dan dimasukkan surga. Maka seseorang yang beristighfar haruslah menargetkan tujuan akhirat tadi. Jika ini dilakukan, maka manfaat-manfaat duniawi akan turut.
Karenanya, tidak boleh menjadikan manfaat duniawi sebagai tujuan utama dari amal ini, misal: memperbanyak istighfar agar cepat mendapat jodoh, kesembuhan, pekerjaan, atau tujuan lainnya. Sementara tujuan akhirat tidak terbersit dalam hati. [Baca: Bahaya Beramal Shalih Untuk Mencari Dunia]
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya dalam amal akhirat diancam dengan kerugian di kehidupan kekal abadi. Dia tidak mendapat apa-apa dari amal shalihnya itu kecuali neraka.
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ  أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)
Sedangkan jika dirinya menghendaki pahala di akhirat dan berharap manfaat di dunia sesuai petunjuk dari nash maka tidak mengapa. Namun jika harapan kebaikan duniawinya lebih besar, tingkat keimanan dan keikhlasannya berkurang. Pahala amalnya itu pun berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.
Al-Imam Abdurrahman bin Sa’di berkata tentang perincian ini, “Adapun amal untuk tujuan dunia dan mendapatkan materinya, jika harapan hamba semuanya untuk tujuan ini dan tidak ada harapan kepada keridhaan Allah dan pahala di akhirat, maka orang ini tidak memiliki bagian di akhirat. Amal yang seperti ini tidak akan lahir dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin, walau lemah iman, pasti berharap pahala Allah dan balasan di negeri akhirat. Adapun orang yang mengerjakan satu amal shalih untuk berharap wajah Allah (keridhaan-Nya) dan berharap mendapat dunia; kedua tujuan ini sama atau seimbang, maka orang ini masih mukmin tapi iman, tauhid, dan keikhlasannya berkurang. (Pahala) amalnya berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.” Selesai.
Dari sini pentingnya kita memperbaiki niat dan tujuan dalam semua urusan kita. Beristighfar untuk berharap maaf dan ampunan Allah. Dengan itu dosa-dosa kita diampuni sehingga pintu-pintu rizki, jadoh, dan keberkahan dibukakan untuk kita. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/09/02/32625/memperbanyak-istighfar-supaya-cepat-dapat-jodoh-dan-rizki-lancar/#sthash.fPwY3B2h.dpuf

Memperbanyak Istighfar Supaya Cepat Dapat Jodoh dan Rizki Lancar

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Istghfar memiliki banyak faidah di kehidupan akhirat dan dunia. Ia menjadi sebab datangnya maaf dan ampunan Allah atas dosa dan kesalahan. Sedangkan dosa menjadi sebab berbagai kesulitan di dunia dan akhirat. Maka siapa Allah ampuni dosa-dosanya karena sebab istighfarnya, Allah akan menghindarkan darinya kesulitan dunia dan ahirat. Sebaiknya, Allah akan berikan berbagai kemudahan dan keberkahan.
Allah Ta'ala berfirman tentang petuah Nabi Nuh 'alaihis salam kepada umatnya agar banyak istighfar,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai"." (QS. Nuuh: 10-12)
Allah menerangkan tentang titah Nabi Hud kepada kaumnya untuk istighfar, ia menjadi sebab bertambahnya kekuatan fisik dan turunnya rizki,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
"Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa"." (QS. Huud: 52)
Dalam hadits disebutkan,
 مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Siapa yang kontinyu beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Namun terkadang ada seseorang yang beristighfar, motifasi utamanya, untuk mendapat jodoh, mendapat perkerjaan, atau supaya rizkinya lancar. Tidak banyak istighfar sebelumnya dan tidak menjalankannya lagi sesudah tercapai harapannya. Bagaimana status orang yang beristighfar semacam ini?
Pada dasarnya, istighfar termasuk amal akhirat. Artinya amal yang harapan balasannya nanti di akhirat. Yaitu, agar dosa-dosa diampuni, diselamatkan dari neraka, diberi pahala besar oleh Allah, dan dimasukkan surga. Maka seseorang yang beristighfar haruslah menargetkan tujuan akhirat tadi. Jika ini dilakukan, maka manfaat-manfaat duniawi akan turut.
Karenanya, tidak boleh menjadikan manfaat duniawi sebagai tujuan utama dari amal ini, misal: memperbanyak istighfar agar cepat mendapat jodoh, kesembuhan, pekerjaan, atau tujuan lainnya. Sementara tujuan akhirat tidak terbersit dalam hati. [Baca: Bahaya Beramal Shalih Untuk Mencari Dunia]
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya dalam amal akhirat diancam dengan kerugian di kehidupan kekal abadi. Dia tidak mendapat apa-apa dari amal shalihnya itu kecuali neraka.
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ  أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)
Sedangkan jika dirinya menghendaki pahala di akhirat dan berharap manfaat di dunia sesuai petunjuk dari nash maka tidak mengapa. Namun jika harapan kebaikan duniawinya lebih besar, tingkat keimanan dan keikhlasannya berkurang. Pahala amalnya itu pun berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.
Al-Imam Abdurrahman bin Sa’di berkata tentang perincian ini, “Adapun amal untuk tujuan dunia dan mendapatkan materinya, jika harapan hamba semuanya untuk tujuan ini dan tidak ada harapan kepada keridhaan Allah dan pahala di akhirat, maka orang ini tidak memiliki bagian di akhirat. Amal yang seperti ini tidak akan lahir dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin, walau lemah iman, pasti berharap pahala Allah dan balasan di negeri akhirat. Adapun orang yang mengerjakan satu amal shalih untuk berharap wajah Allah (keridhaan-Nya) dan berharap mendapat dunia; kedua tujuan ini sama atau seimbang, maka orang ini masih mukmin tapi iman, tauhid, dan keikhlasannya berkurang. (Pahala) amalnya berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.” Selesai.
Dari sini pentingnya kita memperbaiki niat dan tujuan dalam semua urusan kita. Beristighfar untuk berharap maaf dan ampunan Allah. Dengan itu dosa-dosa kita diampuni sehingga pintu-pintu rizki, jadoh, dan keberkahan dibukakan untuk kita. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/09/02/32625/memperbanyak-istighfar-supaya-cepat-dapat-jodoh-dan-rizki-lancar/#sthash.fPwY3B2h.dpuf

Memperbanyak Istighfar Supaya Cepat Dapat Jodoh dan Rizki Lancar

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Istghfar memiliki banyak faidah di kehidupan akhirat dan dunia. Ia menjadi sebab datangnya maaf dan ampunan Allah atas dosa dan kesalahan. Sedangkan dosa menjadi sebab berbagai kesulitan di dunia dan akhirat. Maka siapa Allah ampuni dosa-dosanya karena sebab istighfarnya, Allah akan menghindarkan darinya kesulitan dunia dan ahirat. Sebaiknya, Allah akan berikan berbagai kemudahan dan keberkahan.
Allah Ta'ala berfirman tentang petuah Nabi Nuh 'alaihis salam kepada umatnya agar banyak istighfar,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai"." (QS. Nuuh: 10-12)
Allah menerangkan tentang titah Nabi Hud kepada kaumnya untuk istighfar, ia menjadi sebab bertambahnya kekuatan fisik dan turunnya rizki,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
"Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa"." (QS. Huud: 52)
Dalam hadits disebutkan,
 مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Siapa yang kontinyu beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Namun terkadang ada seseorang yang beristighfar, motifasi utamanya, untuk mendapat jodoh, mendapat perkerjaan, atau supaya rizkinya lancar. Tidak banyak istighfar sebelumnya dan tidak menjalankannya lagi sesudah tercapai harapannya. Bagaimana status orang yang beristighfar semacam ini?
Pada dasarnya, istighfar termasuk amal akhirat. Artinya amal yang harapan balasannya nanti di akhirat. Yaitu, agar dosa-dosa diampuni, diselamatkan dari neraka, diberi pahala besar oleh Allah, dan dimasukkan surga. Maka seseorang yang beristighfar haruslah menargetkan tujuan akhirat tadi. Jika ini dilakukan, maka manfaat-manfaat duniawi akan turut.
Karenanya, tidak boleh menjadikan manfaat duniawi sebagai tujuan utama dari amal ini, misal: memperbanyak istighfar agar cepat mendapat jodoh, kesembuhan, pekerjaan, atau tujuan lainnya. Sementara tujuan akhirat tidak terbersit dalam hati. [Baca: Bahaya Beramal Shalih Untuk Mencari Dunia]
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya dalam amal akhirat diancam dengan kerugian di kehidupan kekal abadi. Dia tidak mendapat apa-apa dari amal shalihnya itu kecuali neraka.
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ  أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)
Sedangkan jika dirinya menghendaki pahala di akhirat dan berharap manfaat di dunia sesuai petunjuk dari nash maka tidak mengapa. Namun jika harapan kebaikan duniawinya lebih besar, tingkat keimanan dan keikhlasannya berkurang. Pahala amalnya itu pun berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.
Al-Imam Abdurrahman bin Sa’di berkata tentang perincian ini, “Adapun amal untuk tujuan dunia dan mendapatkan materinya, jika harapan hamba semuanya untuk tujuan ini dan tidak ada harapan kepada keridhaan Allah dan pahala di akhirat, maka orang ini tidak memiliki bagian di akhirat. Amal yang seperti ini tidak akan lahir dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin, walau lemah iman, pasti berharap pahala Allah dan balasan di negeri akhirat. Adapun orang yang mengerjakan satu amal shalih untuk berharap wajah Allah (keridhaan-Nya) dan berharap mendapat dunia; kedua tujuan ini sama atau seimbang, maka orang ini masih mukmin tapi iman, tauhid, dan keikhlasannya berkurang. (Pahala) amalnya berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.” Selesai.
Dari sini pentingnya kita memperbaiki niat dan tujuan dalam semua urusan kita. Beristighfar untuk berharap maaf dan ampunan Allah. Dengan itu dosa-dosa kita diampuni sehingga pintu-pintu rizki, jadoh, dan keberkahan dibukakan untuk kita. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/09/02/32625/memperbanyak-istighfar-supaya-cepat-dapat-jodoh-dan-rizki-lancar/#sthash.fPwY3B2h.dpuf

Memperbanyak Istighfar Supaya Cepat Dapat Jodoh dan Rizki Lancar

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Istghfar memiliki banyak faidah di kehidupan akhirat dan dunia. Ia menjadi sebab datangnya maaf dan ampunan Allah atas dosa dan kesalahan. Sedangkan dosa menjadi sebab berbagai kesulitan di dunia dan akhirat. Maka siapa Allah ampuni dosa-dosanya karena sebab istighfarnya, Allah akan menghindarkan darinya kesulitan dunia dan ahirat. Sebaiknya, Allah akan berikan berbagai kemudahan dan keberkahan.
Allah Ta'ala berfirman tentang petuah Nabi Nuh 'alaihis salam kepada umatnya agar banyak istighfar,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai"." (QS. Nuuh: 10-12)
Allah menerangkan tentang titah Nabi Hud kepada kaumnya untuk istighfar, ia menjadi sebab bertambahnya kekuatan fisik dan turunnya rizki,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
"Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa"." (QS. Huud: 52)
Dalam hadits disebutkan,
 مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Siapa yang kontinyu beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Namun terkadang ada seseorang yang beristighfar, motifasi utamanya, untuk mendapat jodoh, mendapat perkerjaan, atau supaya rizkinya lancar. Tidak banyak istighfar sebelumnya dan tidak menjalankannya lagi sesudah tercapai harapannya. Bagaimana status orang yang beristighfar semacam ini?
Pada dasarnya, istighfar termasuk amal akhirat. Artinya amal yang harapan balasannya nanti di akhirat. Yaitu, agar dosa-dosa diampuni, diselamatkan dari neraka, diberi pahala besar oleh Allah, dan dimasukkan surga. Maka seseorang yang beristighfar haruslah menargetkan tujuan akhirat tadi. Jika ini dilakukan, maka manfaat-manfaat duniawi akan turut.
Karenanya, tidak boleh menjadikan manfaat duniawi sebagai tujuan utama dari amal ini, misal: memperbanyak istighfar agar cepat mendapat jodoh, kesembuhan, pekerjaan, atau tujuan lainnya. Sementara tujuan akhirat tidak terbersit dalam hati. [Baca: Bahaya Beramal Shalih Untuk Mencari Dunia]
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya dalam amal akhirat diancam dengan kerugian di kehidupan kekal abadi. Dia tidak mendapat apa-apa dari amal shalihnya itu kecuali neraka.
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ  أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)
Sedangkan jika dirinya menghendaki pahala di akhirat dan berharap manfaat di dunia sesuai petunjuk dari nash maka tidak mengapa. Namun jika harapan kebaikan duniawinya lebih besar, tingkat keimanan dan keikhlasannya berkurang. Pahala amalnya itu pun berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.
Al-Imam Abdurrahman bin Sa’di berkata tentang perincian ini, “Adapun amal untuk tujuan dunia dan mendapatkan materinya, jika harapan hamba semuanya untuk tujuan ini dan tidak ada harapan kepada keridhaan Allah dan pahala di akhirat, maka orang ini tidak memiliki bagian di akhirat. Amal yang seperti ini tidak akan lahir dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin, walau lemah iman, pasti berharap pahala Allah dan balasan di negeri akhirat. Adapun orang yang mengerjakan satu amal shalih untuk berharap wajah Allah (keridhaan-Nya) dan berharap mendapat dunia; kedua tujuan ini sama atau seimbang, maka orang ini masih mukmin tapi iman, tauhid, dan keikhlasannya berkurang. (Pahala) amalnya berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.” Selesai.
Dari sini pentingnya kita memperbaiki niat dan tujuan dalam semua urusan kita. Beristighfar untuk berharap maaf dan ampunan Allah. Dengan itu dosa-dosa kita diampuni sehingga pintu-pintu rizki, jadoh, dan keberkahan dibukakan untuk kita. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/09/02/32625/memperbanyak-istighfar-supaya-cepat-dapat-jodoh-dan-rizki-lancar/#sthash.fPwY3B2h.dpuf

Memperbanyak Istighfar Supaya Cepat Dapat Jodoh dan Rizki Lancar

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Istghfar memiliki banyak faidah di kehidupan akhirat dan dunia. Ia menjadi sebab datangnya maaf dan ampunan Allah atas dosa dan kesalahan. Sedangkan dosa menjadi sebab berbagai kesulitan di dunia dan akhirat. Maka siapa Allah ampuni dosa-dosanya karena sebab istighfarnya, Allah akan menghindarkan darinya kesulitan dunia dan ahirat. Sebaiknya, Allah akan berikan berbagai kemudahan dan keberkahan.
Allah Ta'ala berfirman tentang petuah Nabi Nuh 'alaihis salam kepada umatnya agar banyak istighfar,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai"." (QS. Nuuh: 10-12)
Allah menerangkan tentang titah Nabi Hud kepada kaumnya untuk istighfar, ia menjadi sebab bertambahnya kekuatan fisik dan turunnya rizki,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
"Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa"." (QS. Huud: 52)
Dalam hadits disebutkan,
 مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Siapa yang kontinyu beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Namun terkadang ada seseorang yang beristighfar, motifasi utamanya, untuk mendapat jodoh, mendapat perkerjaan, atau supaya rizkinya lancar. Tidak banyak istighfar sebelumnya dan tidak menjalankannya lagi sesudah tercapai harapannya. Bagaimana status orang yang beristighfar semacam ini?
Pada dasarnya, istighfar termasuk amal akhirat. Artinya amal yang harapan balasannya nanti di akhirat. Yaitu, agar dosa-dosa diampuni, diselamatkan dari neraka, diberi pahala besar oleh Allah, dan dimasukkan surga. Maka seseorang yang beristighfar haruslah menargetkan tujuan akhirat tadi. Jika ini dilakukan, maka manfaat-manfaat duniawi akan turut.
Karenanya, tidak boleh menjadikan manfaat duniawi sebagai tujuan utama dari amal ini, misal: memperbanyak istighfar agar cepat mendapat jodoh, kesembuhan, pekerjaan, atau tujuan lainnya. Sementara tujuan akhirat tidak terbersit dalam hati. [Baca: Bahaya Beramal Shalih Untuk Mencari Dunia]
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya dalam amal akhirat diancam dengan kerugian di kehidupan kekal abadi. Dia tidak mendapat apa-apa dari amal shalihnya itu kecuali neraka.
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ  أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)
Sedangkan jika dirinya menghendaki pahala di akhirat dan berharap manfaat di dunia sesuai petunjuk dari nash maka tidak mengapa. Namun jika harapan kebaikan duniawinya lebih besar, tingkat keimanan dan keikhlasannya berkurang. Pahala amalnya itu pun berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.
Al-Imam Abdurrahman bin Sa’di berkata tentang perincian ini, “Adapun amal untuk tujuan dunia dan mendapatkan materinya, jika harapan hamba semuanya untuk tujuan ini dan tidak ada harapan kepada keridhaan Allah dan pahala di akhirat, maka orang ini tidak memiliki bagian di akhirat. Amal yang seperti ini tidak akan lahir dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin, walau lemah iman, pasti berharap pahala Allah dan balasan di negeri akhirat. Adapun orang yang mengerjakan satu amal shalih untuk berharap wajah Allah (keridhaan-Nya) dan berharap mendapat dunia; kedua tujuan ini sama atau seimbang, maka orang ini masih mukmin tapi iman, tauhid, dan keikhlasannya berkurang. (Pahala) amalnya berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.” Selesai.
Dari sini pentingnya kita memperbaiki niat dan tujuan dalam semua urusan kita. Beristighfar untuk berharap maaf dan ampunan Allah. Dengan itu dosa-dosa kita diampuni sehingga pintu-pintu rizki, jadoh, dan keberkahan dibukakan untuk kita. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/09/02/32625/memperbanyak-istighfar-supaya-cepat-dapat-jodoh-dan-rizki-lancar/#sthash.fPwY3B2h.dpuf

Memperbanyak Istighfar Supaya Cepat Dapat Jodoh dan Rizki Lancar

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Istghfar memiliki banyak faidah di kehidupan akhirat dan dunia. Ia menjadi sebab datangnya maaf dan ampunan Allah atas dosa dan kesalahan. Sedangkan dosa menjadi sebab berbagai kesulitan di dunia dan akhirat. Maka siapa Allah ampuni dosa-dosanya karena sebab istighfarnya, Allah akan menghindarkan darinya kesulitan dunia dan ahirat. Sebaiknya, Allah akan berikan berbagai kemudahan dan keberkahan.
Allah Ta'ala berfirman tentang petuah Nabi Nuh 'alaihis salam kepada umatnya agar banyak istighfar,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai"." (QS. Nuuh: 10-12)
Allah menerangkan tentang titah Nabi Hud kepada kaumnya untuk istighfar, ia menjadi sebab bertambahnya kekuatan fisik dan turunnya rizki,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
"Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa"." (QS. Huud: 52)
Dalam hadits disebutkan,
 مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Siapa yang kontinyu beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Namun terkadang ada seseorang yang beristighfar, motifasi utamanya, untuk mendapat jodoh, mendapat perkerjaan, atau supaya rizkinya lancar. Tidak banyak istighfar sebelumnya dan tidak menjalankannya lagi sesudah tercapai harapannya. Bagaimana status orang yang beristighfar semacam ini?
Pada dasarnya, istighfar termasuk amal akhirat. Artinya amal yang harapan balasannya nanti di akhirat. Yaitu, agar dosa-dosa diampuni, diselamatkan dari neraka, diberi pahala besar oleh Allah, dan dimasukkan surga. Maka seseorang yang beristighfar haruslah menargetkan tujuan akhirat tadi. Jika ini dilakukan, maka manfaat-manfaat duniawi akan turut.
Karenanya, tidak boleh menjadikan manfaat duniawi sebagai tujuan utama dari amal ini, misal: memperbanyak istighfar agar cepat mendapat jodoh, kesembuhan, pekerjaan, atau tujuan lainnya. Sementara tujuan akhirat tidak terbersit dalam hati. [Baca: Bahaya Beramal Shalih Untuk Mencari Dunia]
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya dalam amal akhirat diancam dengan kerugian di kehidupan kekal abadi. Dia tidak mendapat apa-apa dari amal shalihnya itu kecuali neraka.
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ  أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)
Sedangkan jika dirinya menghendaki pahala di akhirat dan berharap manfaat di dunia sesuai petunjuk dari nash maka tidak mengapa. Namun jika harapan kebaikan duniawinya lebih besar, tingkat keimanan dan keikhlasannya berkurang. Pahala amalnya itu pun berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.
Al-Imam Abdurrahman bin Sa’di berkata tentang perincian ini, “Adapun amal untuk tujuan dunia dan mendapatkan materinya, jika harapan hamba semuanya untuk tujuan ini dan tidak ada harapan kepada keridhaan Allah dan pahala di akhirat, maka orang ini tidak memiliki bagian di akhirat. Amal yang seperti ini tidak akan lahir dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin, walau lemah iman, pasti berharap pahala Allah dan balasan di negeri akhirat. Adapun orang yang mengerjakan satu amal shalih untuk berharap wajah Allah (keridhaan-Nya) dan berharap mendapat dunia; kedua tujuan ini sama atau seimbang, maka orang ini masih mukmin tapi iman, tauhid, dan keikhlasannya berkurang. (Pahala) amalnya berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.” Selesai.
Dari sini pentingnya kita memperbaiki niat dan tujuan dalam semua urusan kita. Beristighfar untuk berharap maaf dan ampunan Allah. Dengan itu dosa-dosa kita diampuni sehingga pintu-pintu rizki, jadoh, dan keberkahan dibukakan untuk kita. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/09/02/32625/memperbanyak-istighfar-supaya-cepat-dapat-jodoh-dan-rizki-lancar/#sthash.fPwY3B2h.dpuf

Memperbanyak Istighfar Supaya Cepat Dapat Jodoh dan Rizki Lancar

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Istghfar memiliki banyak faidah di kehidupan akhirat dan dunia. Ia menjadi sebab datangnya maaf dan ampunan Allah atas dosa dan kesalahan. Sedangkan dosa menjadi sebab berbagai kesulitan di dunia dan akhirat. Maka siapa Allah ampuni dosa-dosanya karena sebab istighfarnya, Allah akan menghindarkan darinya kesulitan dunia dan ahirat. Sebaiknya, Allah akan berikan berbagai kemudahan dan keberkahan.
Allah Ta'ala berfirman tentang petuah Nabi Nuh 'alaihis salam kepada umatnya agar banyak istighfar,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
"Maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai"." (QS. Nuuh: 10-12)
Allah menerangkan tentang titah Nabi Hud kepada kaumnya untuk istighfar, ia menjadi sebab bertambahnya kekuatan fisik dan turunnya rizki,
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ
"Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa"." (QS. Huud: 52)
Dalam hadits disebutkan,
 مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Siapa yang kontinyu beristighfar maka Allah jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesulitannya, kesudahan dari setiap kesedihannya, dan memberinya rizki dari jalan yang tidak ia sangka." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Namun terkadang ada seseorang yang beristighfar, motifasi utamanya, untuk mendapat jodoh, mendapat perkerjaan, atau supaya rizkinya lancar. Tidak banyak istighfar sebelumnya dan tidak menjalankannya lagi sesudah tercapai harapannya. Bagaimana status orang yang beristighfar semacam ini?
Pada dasarnya, istighfar termasuk amal akhirat. Artinya amal yang harapan balasannya nanti di akhirat. Yaitu, agar dosa-dosa diampuni, diselamatkan dari neraka, diberi pahala besar oleh Allah, dan dimasukkan surga. Maka seseorang yang beristighfar haruslah menargetkan tujuan akhirat tadi. Jika ini dilakukan, maka manfaat-manfaat duniawi akan turut.
Karenanya, tidak boleh menjadikan manfaat duniawi sebagai tujuan utama dari amal ini, misal: memperbanyak istighfar agar cepat mendapat jodoh, kesembuhan, pekerjaan, atau tujuan lainnya. Sementara tujuan akhirat tidak terbersit dalam hati. [Baca: Bahaya Beramal Shalih Untuk Mencari Dunia]
Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuannya dalam amal akhirat diancam dengan kerugian di kehidupan kekal abadi. Dia tidak mendapat apa-apa dari amal shalihnya itu kecuali neraka.
فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)
Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ  أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Huud: 15-16)
Sedangkan jika dirinya menghendaki pahala di akhirat dan berharap manfaat di dunia sesuai petunjuk dari nash maka tidak mengapa. Namun jika harapan kebaikan duniawinya lebih besar, tingkat keimanan dan keikhlasannya berkurang. Pahala amalnya itu pun berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.
Al-Imam Abdurrahman bin Sa’di berkata tentang perincian ini, “Adapun amal untuk tujuan dunia dan mendapatkan materinya, jika harapan hamba semuanya untuk tujuan ini dan tidak ada harapan kepada keridhaan Allah dan pahala di akhirat, maka orang ini tidak memiliki bagian di akhirat. Amal yang seperti ini tidak akan lahir dari seorang mukmin. Karena seorang mukmin, walau lemah iman, pasti berharap pahala Allah dan balasan di negeri akhirat. Adapun orang yang mengerjakan satu amal shalih untuk berharap wajah Allah (keridhaan-Nya) dan berharap mendapat dunia; kedua tujuan ini sama atau seimbang, maka orang ini masih mukmin tapi iman, tauhid, dan keikhlasannya berkurang. (Pahala) amalnya berkurang karena hilangnya kesempurnaan ikhlas.” Selesai.
Dari sini pentingnya kita memperbaiki niat dan tujuan dalam semua urusan kita. Beristighfar untuk berharap maaf dan ampunan Allah. Dengan itu dosa-dosa kita diampuni sehingga pintu-pintu rizki, jadoh, dan keberkahan dibukakan untuk kita. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2014/09/02/32625/memperbanyak-istighfar-supaya-cepat-dapat-jodoh-dan-rizki-lancar/#sthash.fPwY3B2h.dpuf

Copyright @ 2013 IMMT.